|
Menulis bagi Agatha Novi Ardhiati ibarat berbicara. Apalagi pemilik nama 'maya' Shrivastava Agatha ini mengaku bukanlah orang yang doyan ngomong. Karenanya ia menggunakan media blog sebagai lahan untuk menampung isi kepalanya yang membludak. "Blog adalah media ekspresi serta aktualisasi diri," kata mahasiswi S2 Psikologi, Universitas Indonesia ini yang blognya baru saja di-review di majalah Chic.
Dudukbersila.com bukanlah blog pertama Agatha. Ada beberapa blog yang menjadi lahannya menulis sejak 2004. Namun hanya dua saja yang eksis. Dudukbersila.com yang direview Majalah Chic dan petualangan-jaune.blogspot.com.
Dara manis ini bercerita sejak duduk di sekolah dasar ia sudah menggemari dunia tulis-menulis. Karenanya saat internet menjadi alternatif wadah menorehkan pena ia mulai melampiaskan hasrat menulisnya di dunia cyber.
Awalnya ia menulis di blog hanya sebagai media 'uneg-uneg' saja. Namun melihat apresiasi orang membaca tulisannya mau tak mau Agatha merasa terpecut untuk terus menulis dan menulis.
Memandang Hal Kecil dari Sudut Pandang Berbeda
“Saya ingin mengajak orang untuk memandang hal kecil dari sudut pandang berbeda dan belajar mengenainya," kata penggemar Sidney Sheldon ini. Karenanya, blog Agatha dudukbersila.com memuat kegiatan kesehariannya.
Namun tak semua rutinitas ia tumpahkan di layar. Hanya kejadian-kejadian biasa dari aktivitas yang bisa menjadi hikmah ia bagi lewat wadah blog.
Salah satunya adalah tulisan 'Jackpot' yang isinya mengenai perjalanan Agatha menuju rumah sakit. Ceritanya saat itu anak kelima dari enam bersaudara ini menderita maag dan harus dilarikan ke rumah sakit. Namun saat hampir mencapai rumah sakit, mobil mereka tertahan karena ada tawuran.
Perasaan was-was karena takut terkena keganasan massa bercampur dengan rasa sakit pedih melilit akibat maag. "Padahal tinggal beberapa meter saja sudah sampai ke rumah sakit," kenang dara manis kelahiran 29 November 1982.
Syukurlah kejadian itu tak berdampak buruk bagi Agatha. Tak hanya menggambarkan hikmah dalam keseharian yang kadang tak tertangkap mata saja. Pun ada keunikan lain dalam blog miliknya. Bila demam bahasa gaul melanda dunia blogger, Agatha menggunakan bahasa yang non gaul. Bahkan ia menyebut dirinya 'Saya'.
"Tulisan ini diperuntukkan bagi siapa saja tak hanya anak muda. Makanya saya menggunakan bahasa yang baku," terangnya sembari mengaku merasa nyaman dengan tata bahasa tersebut.
Bedakan Ruang Privat dan Publik
Agatha berpendapat dewasa ini perkembangan blog kian pesat saja. Apalagi kayanya manfaat yang didapat dari nge-blog. Selain menambah wawasan, teman juga mengasah keterampilan mencoba dan mendesain tampilan. "Blog itu ajang kreativitas," paparnya.
Namun sayangnya, dosen Psikologi Universitas Atmajaya menganggap, blogger kini banyak yang kebablasan. Blog yang seyogianya adalah media tempat berbicara tak jarang melewati batas.Tidak bisa membedakan mana yang area privat dan publik.
Nah, agar hal tersebut tak terjadi, ada beberapa hal yang harus dilakukan blogger sebelum menaikkan tulisannya di blog. Satu hal yang wajib adalah mengedit tulisan-tulisan di blog sebelum ditayangkan ke umum. Selain itu, membedakan mana yang bisa dikonsumsi umum dan mana yang tidak. "Namanya juga area publik bisa ditularkan ke tempat lain. Ngeblog ini banyak yang harus dijaga. Terutama sopan-santun," pungkasnya.
Ester Pandiangan | Global | Medan
|