|
Banyaknya jajanan tidak sehat beredar di kalangan anak-anak sekolah di Kota Medan sebenarnya bukan hal baru lagi. Ironisnya, hingga kini pemerintah seolah enggan menyeriusinya. Faktanya, masih banyak ditemukan makanan-makanan yang mengandung zat berbahaya di lingkungan kalangan generasi penerus bangsa ini. “Dari temuan BBPOM Januari hingga Juni di 50-70 sekolah SD, SMP dan SMA di Medan diambil dengan cara random (acak) dan hasilnya ditemukan sebanyak 5 persen jajanan tidak sehat beredar di kalangan anak-anak sekolah,”kata Kasi Penyidik BBPOM Medan, Anis Zuardi Lubis, Kamis (29/7).
Saat ini, ulasnya, yang sedang marak adalah produk teh manis buatan. ”Di mana teh manis buatan ini tidak mengandung kalori, sebagaimana teh manis seharusnya. Bagi anak-anak jika sering meminumnya menjadi tidak sehat,”katanya lagi.
Mengapa masih saja ditemukan produk makanan minuman berbahaya? Ditanya begitu Anis tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pedagang. “Karena sebenarnya dari hasil penyidikan kami, para pedagang ini tidak tahu bahwa yang mereka jual itu berbahaya,” terang Anis sambil menambahkan biasanya makanan-makanan jenis ini berasal dari home industry yang tidak memiliki kualitas pengawasan.
Solusi mencegah agar makanan ini tidak lagi beredar, BB POM tak bisa bekerja sendirian. “Sehingga depan kami meminta agar dinas terkait, seperti perdagangan dan perindustrian, berperan dengan memberi arahan kepada para pedagang yang akan diperdagangkan,”terangnya.
Sementara itu, pengamat kesehatan Departemen Kesehatan Universitas Sumatera Utara (USU), dr Adnan Lelo membenarkan BBPOM, harus ada kerja sama lintas sektor untuk mengatasi peredaran makanan-minuman berbahaya ini.
Menurut Lelo, makanan jajanan anak sekolah yang berbahaya itu hampir mencapai 100 persen.
“Semua jenis jajanan anak sekolah itu tidak ada yang benar, semuanya bermasalah termasuk makanan siap saji yang masih saja mengandung penyedap berbahaya,” tutur Lelo yang juga ahli gizi ini.
Lelo menjelaskan, bukan saja makanan untuk anak-anak, namun juga harus juga diperhatikan di lingkungan keluarga. Pasalnya, bumbu masakan seperti mononatrium glutamat, monosodium glutamat (MSG) yang dikenal masyarakat sebagai bumbu masak. “Ini sangat sangat berbahaya bagi tubuh. Di mana kandungan di dalamnya dapat meracun terhadap saraf manusia,” jelas Lelo sambil menambahkan akibat lain yang ditimbulkan kerusakan retina sehingga anak bermata juling, kerusakan otak, gangguan hormonal.
Dia meminta batas maksimum bumbu penyedap dalam makanan adalah tiga gram per hari, sedangkan untuk anak batas maksimumnya satu gram sehari. “Sayangnya, belum terlihat kepedulian serius dari semua aspek. Ini semua karena pemimpin kita tidak benar. Ganti presiden, ganti Menkes. Tidak ada yang peduli dengan rakyatnya, semuanya hanya memedulikan dirinya sendiri,” katanya bernada kesal.
HOTMA SARAGIH | GLOBAL | MEDAN |